why we can not be together as friends?
All’s POV
Para siswa-siswi kelas Universitas –kumpulan anak orang kaya– berdemo di lapangan tengah Horikoshi Gakuen. Lagi-lagi mereka meminta kesetaraan dengan kelas TRAIT. Demo seperti ini memang paling sering dilakukan oleh anak-anak kelas Universitas. Mungkin karena mereka merasa berkuasa dengan uang orang tua mereka. Padahal tidak satupun siswa siswi dari kelompok lain yang memprotes.
Di koridor depan kelas Universitas hanya tersisa dua orang, Rumi dan Eru.
“Apa sih yang mereka lakukan?” tanya Rumi bingung.
“Tidak tahu. Tidak peduli. Yang penting kelas kosong dan aku bisa main game,” jawab Eru.
Rumi geleng-geleng kepala. “Kau ini. Main game terus yang ada dipikiranmu,” katanya.
“Hey, bukankah kalian juga anak kelas Universitas?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja ada di dekat mereka.
Rumi dan Eru menoleh dan mendapati sesosok gadis bertubuh tidak terlalu tinggi berdiri didekat mereka. Wajahnya bulat dan rambutnya diikat asal-asalan. Tapi ya…gadis itu cukup imut. Dari seragamnya sepertinya dia anak kelas Olahraga. Lagipula anak itu sedang susahpayah mengangkut seboks besar bola basket di tangannya.
“Ya, kami anak kelas Universitas. Memangnya kenapa?” tanya Rumi balik.
“Kalian tidak ikut…,” kata-katanya terputus, “Seperti mereka?”
Gadis itu menggerak-gerakan matanya ke arah para pendemo. Rumi dan Eru mengikuti arah matanya kemudian menggeleng.
Tiba-tiba seseorang datang sambil mendribble bola basket.
“Tidak perlu ikut campur urusan orang tau! Kerjakan saja tugasmu,” kata seorang gadis yang sedang mendribble bola itu. Perawakannya lebih tinggi dan terlihat seperti anak laki-laki. Rambutnya cepak. Sepertinya dia juga anak kelas Olahraga.
“Kenapa sih? Aku kan hanya ingin tahu,” protes si gadis bertubuh pendek.
“Tidak penting kau tahu?! Sudah ayo cepat,” si gadis tinggi lalu mengambil beberapa bola dari boks si gadis satunya dan membawanya dengan enteng tanpa bantuan alat apapun. Lalu ia berjalan pergi.
“Dasar dingin!” kata si gadis bertubuh pendek yang kemudian mengikuti langkah gadis sebelumnya. Tapi beberapa saat kemudian langkahnya terhenti.
“Eh, hajimemashite! Watashi wa Rin, Yuujirou Rin desu. Aku dari kelas Olahraga. Senang berkenalan dengan kalian. Ngomong-ngomong gadis menyebalkan yang tadi namanya Miyuki. Jangan ambil pusing dengannya. Dia memang selalu marah-marah,” katanya sambil menoleh kea rah Rumi dan Eru.
Rumi membungkukan badan sekilas. “Ah, hajimemashite. Rumiko desu. Kochira wa Eru desu. Yoroshiku,” katanya membalas perkenalan dari gadis bernama Rin itu.
Gadis itu tersenyum lalu melanjutkan langkahnya kearah gedung Olahraga.
*****
“Apa yang mereka inginkan kali ini?” tanya Kamiki Ryounosuke sambil memperhatikan kelakuan anak-anak kelas Universitas.
Chinen tertawa sinis, “Apa lagi kan? Selalu meminta hal yang sama,” katanya.
“Kasihan sekali sih mereka. Mereka tidak tahu kalau usaha mereka sia-sia?” tambah Yuuto.
“Sepertinya tidak tahu dan tidak pernah putus asa,” jawab Chinen disambung oleh tawa yang lainnya.
“Hey, Yama-chan. Bagaimana menurutmu kalau kelas TRAIT disejajarkan dengan kelompok lain?” tanya Yuuto pada Yamada yang sejak tadi diam di bangkunya.
Yamada menoleh. “Sudah kubilang jangan panggil aku Yama-chan,” katanya seraya bangkit dari kursinya dan mendekati 3 sahabatnya. “Hmm… menurutku tidak masalah sih. Aku tidak peduli,”
“Jawaban yang sangat cool sekali. Selalu begitu,” komentar Yuuto.
“Yamada-kun memang selalu keren kan,” tambah Shida Mirai.
Semuanya menoleh kearah Mirai.
“Hei, hei. Murid perempuan dan laki-laki dilarang berbicara berlebihan satu sama lain kau tau,” protes Yuuto.
“Hei, apakah aku berlebihan?? Lagipula kau yakin tidak ingin mengubah peraturan itu? Tidak ingin mengobrol dengan Mariya-san?” tanyanya balik.
Wajah Yuuto memerah. “Ah, mengapa kau selalu tahu titik lemahku,” katanya sebal.
“Karena titik lemahmu begitu banyak Yuu-kun,” jawab Mirai, “Ah, Yamada-kun. Benarkah kamu tidak peduli?”
Yamada mengangguk.
“Padahal kau tahu, sebagian besar gadis-gadis yang berdemo itu menginginkan kesetaraan dengan siswa TRAIT karena ingin dekat denganmu,” kata Mirai.
“Benarkah?” tanya Chinen antusias, “Kukira Yuuto yang terpopuler,”
“Hei, hei. Aku juga cukup popular. Memang kau tau darimana Mirai?” tanya Yuuto.
“Kelas Universitas bodoh itu yang membuat pollingnya sendiri lalu mempublikasikannya. Benar-benar bodoh bukan?” jawab Mirai. Chinen dan Yuuto ber’ooo’ ria.
“Jadi kau tetap tidak peduli, Yamada-kun? Kau tidak takut diganggu?”
Yamada menggeleng lalu duduk di bangku terdekat, “Tidak peduli. Bukan urusanku,”
“Tenang saja aku tidak akan membiarkannya,” kata Mirai.
“Lakukan sesukamu,” kata Yamada.
“Eh, Mirai-chan,” panggil Chinen yang kemudian berbisik kepadanya, “Kamu dan Yamada sebenarnya punya hubungan apa sih?”
“Tidak ada, tapi akan ada. Lihat saja nanti,” jawabnya.
“Hei, kau ingin melanggar peraturan utama sekolah kita?” tanya Yuuto.
Mirai menoleh pada Yuuto lalu tersenyum penuh arti. “Kau sendiri. Tidak ingin mencoba melanggarnya dengan Mariya-chan?” tanyanya.
Yuuto langsung salting. “Eh, itu… itu,” katanya terbata-bata.
“Susah deh kalau aku mengajak pengecut sepertimu,” kata Mirai dengan pedasnya.
“Hei, hei, apa maksudmu?!” protes Yuuto tidak terima. Tapi mirai sudah keburu pergi.
Kamiki menepuk pundak Yuuto.
“Dia memang selalu dingin. Kau sebagai laki-laki harus mengalahkan yang seperti itu atau kau layak dikatai pengecut,” katanya, tidak membantu.
Chinen ikut mengangguk lalu berkata, “Ya, benar sekali, Yuu-kun”
“Hei, hei! Tidak bisakah kalian membelaku sedikit saja?” protesnya.
*****
Ai berjalan pulang mengikuti arah lorong siswi Horikoshi.
“Hei, Ai-chan. Kau mau ikut dengan kami?” tanya dua orang gadis yang melaluinya, Kiri dan Sei. Mereka berdua adalah siswi kelas Beasiswa, sekelas dengan Ai.
“Ah, kemana?” tanya Ai.
“Ke perbatasan lorong siswa. Kami mau melihat siswa-siswa TRAIT pulang sekolah,” jawab Kiri.
“Ooo..,” Ai menggeleng, “Tidak ah. Aku tidak berminat,”
“Benarkah? Kamu tidak tertarik pada mereka?” tanya Sei.
“Tidak terima kasih,” jawab Ai.
“Ah, sayang sekali ya. Tapi tidak apa. Kalau begitu kami pergi dulu ya,” pamit Kiri.
Mereka lalu melambaikan tangan dan berlari melawan arah langkah Ai. Ai menghembuskan nafas. Kenapa selalu kelas TRAIT, kelas TRAIT, dan kelas TRAIT.
“Ai-chan,” panggil seseorang yang suaranya tidak asing lagi di telinga Ai. Ai menoleh dan mendapati Rin ada disampingnya.
“Ah, Rin. Beruntung kita bertemu di sini. Ini jarang sekali,” kata Ai.
Rin garuk-garuk kepala, “Ah, iya benar sekali. Kelas kita berbeda jadwal 180derajat,” katanya.
Ai tertawa. “Ya, kamu sih masuk kelas Olahraga,” katanya.
“Ah, otakku kan tidak sepintar otakmu. Kamu sih tidak masuk kelas Olahraga,” balasnya.
“Hahaha… Kau tahu sendiri dari kecilpun aku lemah dalam olahraga. Jadi kita memang ditakdirkan masuk kelas masing-masing. Setidaknya bukan di kelas Universitas dan kelas TRAIT bukan?” kata Ai. Mereka meneruskan langkah mereka menuju gerbang.
“Ah, tapi tidak semua anak kelas Universitas menyebalkan seperti yang biasa kita bicarakan lho. Tadi aku bertemu yang sepertinya menyenangkan,” kata Rin.
“Benarkah?” tanya Ai. Rin mengangguk. “Wah, kupikir mereka hanya anak bodoh yang masuk ke sini demi anak-anak TRAIT itu dengan menggunakan uang orangtuanya,”
“Ya mungkin sebagian besar begitu. Tapi ada yang tidak kok,” kata Rin diiringi tawa. “Kau masih tetap saja sinis pada mereka ya?”
Ai tertawa. “Tentu saja. Aku tidak suka pada mereka,” jawabnya.
“Mereka? Atau…Ryosuke?” tanya Rin.
Raut wajah Ai berubah. “Sudahlah tidak perlu membicarakan itu lagi. Dia sudah lupa pada kita,” kata Ai.
“Tapi kurasa dia tidak akan pernah melupakanmu,” kata Rin.
“Kau gila? Tidak mungkin lah,” bantah Ai. “Sudahlah jangan bahas anak-anak TRAIT. Mendengarnya saja aku malas,”
Rin tertawa. “Baiklah. Sesuai apa katamu. Ah, bagaimana kalau kita mampir kedai Takoyaki paman Juunichi?” usulnya.
Ai mengangguk. “Ayo, ayo! Sudah lama kita tidak ke sana,” jawab Ai setuju.
Mereka berdua pun mempercepat langkah menuju gerbang.
*****