'cause our friendship is MIRACLE *marcel*lin*hiro*ai*L*

Sabtu, 28 Mei 2011

Line - Part1

Cast :

Fujisawa Ai
Yuujirou Rin
Hanasawa Miyuki
Hirohata Rumiko
Akayama Eru
Kobayashi Shoutaro
Other Horikoshi Gakuen's Student

karya ini cuma fiksi belaka ^^

LINE
we are on the same world, same kind of life as human,
why we can not be together as friends?

Ai’s POV
Namaku Ai. Fujisawa Ai. Aku gadis biasa yang punya otak cemerlang. Sungguh! Otakku begitu cemerlang sampai-sampai aku bisa lolos ujian beasiswa di sekolah elit paling terkenal sepanjang masa, Horikoshi Gakuen. Ya. Kalau kamu mengenalnya sebagai tempat sekolah para artis, itu benar sekali. Tapi kamu mungkin perlu tahu sisi lain dari sekolah ini.
Aku sedikit menyesal masuk ke sekolah ini. Sekolah dengan sistem kasta yang begitu hebat. Dan bagian terburuknya adalah aku berada di kasta terendah. Kasta beasiswa.
Setiap orang dari kasta yang berbeda tidak dapat bertemu satu sama lain. Jadi jangan tanya kapan aku melihat Nishiuchi Mariya, Shida Mirai, ataupun Chinen Yuuri berangkat sekolah. Karena jawabannya sudah tentu : “TIDAK PERNAH”. Bahkan ada larangan untuk saling bertemu, menyapa, ataupun mengobrol di Horikoshi Gakuen. Dan silahkan saja coba masuk ke sekolah ini lewat jalur beasiswa, maka kamu akan tahu mengapa aku tidak pernah mengobrol ataupun berhubungan dengan orang-orang dengan kasta yang lain, terutama kasta ARTIS yang biasa disebut dengan TRAIT.
Ah selain TRAIT ada satu jenis kelompok lagi yang aku tidak suka. Yaitu, kelompok anak-anak kaya. Seperti orang kaya pada umumnya, mereka selalu bertindak semena-mena terutama pada kami, kelompok anak Beasiswa. Mereka pikir dengan uang mereka bisa membeli semuanya. Dan satu lagi, mereka justru adalah orang-orang yang sangat menentang peraturan isolasi bagi kelompok TRAIT. Tentu saja karena mereka ingin mendekati artis-artis idola mereka. Tapi aku yakin, mereka hanya ingin membela kepentingan mereka sendiri, bukan mengubah seluruh sistem kasta yang begitu diskriminatif ini.
Satu-satunya kelompok siswa –selain beasiswa– yang aku sukai adalah kelompok Olahraga. Ah, ngomong-ngomong aku menyukai seorang dari kelas Olahraga bernama Kobayashi Shoutaro atau yang biasa dipanggil Shou-kun. Aku tidak pernah berkenalan dengannya, aku hanya berani memperhatikannya dari jendela kelasku ketika kelasnya berolahraga –sebenarnya kelas mereka selalu berolahraga–. Meskipun begitu aku senang sekalipun hanya bisa melihatnya dari jauh. Mungkin suatu saat nanti aku akan menyapanya.
Satu hal lagi yang membuatku tidak membenci kelompok anak-anak Olahraga adalah karena seorang sahabat baikku ada dikelompok tersebut. Kami memang tidak pernah bertemu di sekolah, tapi kami bermain bersama di rumah. Dialah yang memberikan segala info tentang Shou-kun. Namanya Yuujirou Rin.

Rin’s POV
Hoahmmm…                                
Menguap untuk yang keberapa kalinya ya? Hmm.. 1,2,3.. Ah, sudahlah pelajaran membosankan seperti ini memang perlu ditinggal tidur. Hmm…
PLETAK! Sesuatu yang terasa seperti balok mampir ke kepalaku.
“ADUH!” teriakku, “Siapa sih yang iseng?!”
“Saya,” jawab seseorang yang tidak lain tidak bukan adalah Sugiwara-sensei.
“Ah, sensei…,” kataku dengan wajah sok innocent.
“Kamu berani-beraninya ya tidur di pelajaran saya! Saya tahu kalian atlet tapi jangan kesampingkan juga pelajaran lain. Kamu sudah pintar matematika sampai berani tidur di kelas?! Hah?! Jawab!” kata Sugiwara-sensei tepat di depan wajahku.
Aku menggeleng pelan. “Ti…tidak pak,”
“Kalau begitu awas kalau kau berani tidur!” kata Sugiwara-sensei.
“Ba..baik Pak!”
Sugiwara sensei mendengus lalu berbalik badan dan kembali ke muka kelas. Aku menghembuskan nafas lega. Sial! Kenapa sih aku selalu apes.
“Heh, baka!” panggil seseorang dari arah belakang, Shoutaro.
Aku menoleh, “Apa, hentai?” tanyaku.
“Shimatta! Jangan asal bicara ya. Reputasiku bisa hancur di kalangan para gadis,” kata Shou.
“Ore niwa kankeinai. Siapa yang peduli dengan reputasimu,” aku menjulurkan lidahku. Weee… :p
“SIAPA YANG DARITADI RIBUT?!” teriak Sugiwara-sensei lagi.
“Kobayashi Shoutaro, pak!” celetukku.
“KALAU HANYA MENGGANGGU, KELUAR!” perintah Sugiwara-sensei.
“He?!” kata Shou kaget.
“KELUAR SEKARANG JUGA! KALIAN INI PARA ATLET PERLU DIBERI PELAJARAN!” Sugiwara-sensei mengulangi perintahnya.
Shou beranjak dari mejanya dan berjalan menuju pintu, tepat ketika melewatiku dia berkata, “Gara-gara kamu tau! Awas nanti! Lihat pembalasanku!”
Aku hanya tersenyum ke arahnya dan dia melanjutkan langkahnya dengan penuh emosi. Dasar kekanakan! Kenapa sih Ai bisa begitu menyukainya. Aku tidak habis pikir dengan selera Ai.

Miyuki’s POV
Kenapa kelas kami selalu ramai sih?! Apa tidak bisa tenang sedikit saja. Saat teori ramai, saat praktek pun ramai. Sejak awal aku tidak mau bersekolah di sini tapi ayah yang memaksa. Ayah selalu begitu sih, termakan gengsi pada teman-temannya. Padahal apa coba bedanya sekolah ini dengan sekolah olahraga yang lain. Bahkan kalau boleh aku bilang, masih banyak sekolah khusus olahraga yang lebih baik daripada Horikoshi. Tapi kenapa ayah malah menyuruhku masuk tempat ini?
Ahh, andai saja aku bisa lahir di keluarga yang lain. Yang tidak selalu memaksa anaknya mengambil jalan yang dipilihkan ayah! Aku ingin jadi atlet, tapi kalau begini caranya….

Rumi’s POV
“Hei Rumi-chan! Sudah lihat tas baru Aizawa yang dibelinya di Milan itu?” tanya Kuchiki yang duduk tepat di sebelah Rumi.
Aku mengalihkan pandangan dari buku di tanganku. “Ah, maaf aku tidak tertarik dengan yang seperti itu,” jawabku.
Aizawa sepertinya mendengar jawabanku atas pertanyaan Kuchiki tadi. Ia mendekati kami berdua. “Hei, Kuchiki! Sudahlah tinggalkan saja dia. Dia tidak akan mengerti soal fashion. Lihat saja penampilannya yang selalu anime itu. Mana dia tau produk Milan, Paris. Dia hanya tau produk lokal,” katanya dengan nada sombong.
Tapi tiba-tiba seseorang lewat di depan kamu begitu saja. Ia adalah Eru, satu-satunya orang yang kuanggap waras di sini. Dan si Aizawa-centil-ganjen-sok kaya ini sangat memuja-muja Eru dan memusuhiku karena hanya aku yang bisa mengobrol tanpa kena libas si Eru.
“Ah, Ohayou Eru-kun!” sapa Aizawa.
“Ohayou,” jawabnya singkat sambil meletakan tasnya lalu mengeluarkan PSP dari dalamnya.
“Eru-kun memainkan game terbaru lagi?” tanya Aizawa.
“Hmm,” jawabnya super singkat.
“Aku sangat ingin bisa bermain game. Apakah kamu mau mengajarkannya untukku?” tanya Aizawa dengan manja.
Eru hanya menatap Aizawa sekilas lalu berkata, “Kamu tidak akan bisa memainkannya,”
Aku tertawa mendengarnya. Wajah Aizawa langsung memerah menahan emosi. Gadis itu segera berjalan gontai ke tempat duduknya dengan diikuti para cewek-cewek modis ajudannya. Mungkin dia akan menangis tersedu-sedu sebentar lagi. Aku tidak peduli.
Aku menoleh pada Eru.
“Hey, apa kau tidak terlalu kejam padanya?” tanya Rumi.
Eru menoleh. “Ore?” tanyanya. Aku mengangguk.

Eru’s POV
“Hhh.. aku cuma mengungkapkan pendapatku,” jawabku santai. Toh memang begitu kan.
Rumi geleng-geleng kepala. “Dasar cowok kejam,” katanya.
“Kimi niwa kankeinaika?” komentarku.
“Hai hai. Percuma berdebat denganmu. Lagipula aku juga tidak suka pada mereka. Jadi lakukanlah sesukamu. Oke?” katanya.
Aku mengangguk.
Yah, aku tidak peduli pada gadis-gadis itu. Yang selalu saja membicarakan fashion, fashion dan fashion. Selain karena tidak mengerti, tidak ada hal lain yang menarik perhatianku selain game. Bisa kalian lihat aku tidak begitu suka bicara ataupun ikut campur urusan orang. Satu-satunya yang bisa cukup akrab denganku di kelas ini hanyalah Rumi. Dia selalu mengatakan bahwa aku adalah ‘orang paling waras’ yang ada di kelas kami. Tapi aku justru merasa dia gadis paling aneh diantara orang di kelas ini. Ya, aneh. Sedikit cocok denganku bukan? Karena itu aku bisa menerima kata-kata dan komentarnya. Begitu juga dengannya.

to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar